Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Menagih Peningkatan Profesionalitas Guru

Penulis: Rakhmat Hidayat (Dosen Jurusan Sosiologi UNJ, saat ini sedang melanjutkan studi doktoral di Université Lumière Lyon 2, France)

Tanggal 25 November adalah hari istimewa bagi guru Indonesia. Hari itu diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Momen ini diperingati bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), 25 November 1945. Persis 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan. Lahirnya PGRI tak bisa lepas dalam elan vital perjuangan Indonesia saat itu. Sebagai bentuk penghargaan terhadap pengabdian guru, maka diperingati sebagai Hari Guru Nasional pada tanggal tersebut.

Peringatan hari guru ini menjadi momentum tepat untuk merefleksikan kiprah guru dalam pembangunan Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD), sejak 2006 diselenggarakan sertifikasi guru.

Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan.

Program sertifikasi guru ini secara umum memiliki dua tujuan penting. Pertama, berupaya meningkatkan kualitas dan kompetensi guru. Kualitas dan kompetensi ini dinilai dengan standar kinerja guru. Kedua, sebagai kompensasi sertifikasi tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi.

Kinerja Guru
Kita menyaksikan dengan seksama program sertifikasi tersebut berlangsung secara massif di seluruh Indonesia. Ada harapan yang besar dari republik ini dengan sertifikasi akan meningkatkan kompetensi para pendidik. Implikasinya, hal tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan data statistik, pada saat ini jumlah guru di Indonesia sekitar 2.600.000 orang. Sebanyak 78 persen di antara mereka belum memiliki sertifikasi.

Data tersebut juga menunjukkan 1,5 juta guru belum berkualifikasi sarjana/diploma 4.

Adanya program sertifikasi guru ini dengan berbagai kekurangan mesti dihargai sebagai itikad baik pemerintah dalam mendongkrak kualitas guru yang tujuan akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Apalagi program sertifikasi ini mengeluarkan dana yang sangat besar.

Dari APBN Rp 1000 triliun, 20 persennya untuk anggaran pendidikan sebesar Rp 200 triliun. Sekitar Rp 110 triliunnya untuk program sertifikasi guru. Ekspektasi rakyat Indonesia tentu saja beralasan karena dana tersebut adalah uang rakyat. Sejatinya, hasil sertifikasi guru tersebut juga dapat dikembalikan untuk rakyat dengan meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Ironisnya, kita memang masih tersandera dengan berbagai problem yang berada dalam dunia pendidik kita. Di satu sisi, anggaran maupun program peningkatan kualitas guru terus dilakukan tetapi kita juga masih belum melihat perubahan signifikan. Sebagian mengatakan bahwa perubahan tersebut tidak seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi kita juga membutuhkan berbagai terobosan yang seharusnya dilakukan para guru pasca mereka mendapatkan sertifikat mengajar.

Terobosan itu antara lain dengan lahirnya berbagai terobosan berupa metode, teknologi, media pembelajaran yang kreatif dan inovatif di kalangan guru. Meski kita juga tak bisa menampik, banyak guru di beberapa daerah kreatif dan inovatif dalam pembelajarannya. Tetapi, secara umum kita belum melihat perubahan secara massif di seluruh tanah air.

Pasca sertifikasi, guru memang ditantang memiliki kemampuan dan terobosan mumpuni dalam bidangnya. Ada beberapa tantangan yang dihadapi guru pasca sertifikasi.

Pertama, tantangan akademik. Pasca sertifikasi guru dituntut memiliki kemampuan akademik yang lebih tinggi. Kemampuan tersebut dalam hal metodologi pembelajaran, penggunakan teknonologi/media pembelajaran serta pengkayaan berbagai sumber pembelajaran yang menarik dan inspiratif. Termasuk juga didalamnya adalah penggunaan teknologi informasi yang mendukung pembelajaran.

Kedua, tantangan non akademik. Guru pasca sertifikasi tidak hanya dituntut cakap dan mahir dalam pembelajaran di kelas.Tetapi ia juga harus cakap dan mahir dalam pergaulan dengan lingkungan profesinya. Ia diharapkan bisa membangun jejaring dan komunitas dengan sesama guru dalam berbagai wadah organisasi. Membangun jejaring dalam upaya mengkonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki guru dalam upaya mengakselerasi kualitas guru khususnya dan kualitas pendidikan secara umum.

Ada beberapa wadah dan asosiasi guru yang sejauh ini sangat aktif melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan potensi guru seperti penggunaan blog sebagai media pembelajaran maupun publikasi jurnal yang melatih kemampuan karya ilmiah guru. Sebagai sebuah ikhtiar, gerakan seperti ini harus didorong secara massif oleh berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Hal penting lainnya juga adalah bagaimana guru dengan berbagai jejaring/asosiasinya dapat menghapuskan tradisi kekerasan/bullying di lingkungan sekolah. Memang tidak ada korelasi langsung antara sertifikasi dengan tradisi kekerasan di kalangan pelajar. Tetapi, kita bisa berharap kepada guru-guru pasca sertifikasi untuk memikirkan formula dan solusinya mencegah dan meminimalisir praktik kekerasan tersebut.

Akselerasi Kualitas
Sertifikasi juga memberikan dampak pada meningkatnya kesejahteraan dalam hal tunjangan profesi. Dulu masih kita dengar guru-guru dengan gaji rendah, meskipun faktanya sampai saat ini juga masih terjadi. Tetapi, sejak diberlakukannya program sertifikasi ini, penghasilan guru meningkat. Apalagi jika di beberapa daerah yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya cukup tinggi, mereka juga mendapatkan tunjangan kesejahteraan tambahan dari pemda setempat. Bahkan, di beberapa daerah yang memiliki PAD tinggi, seorang guru bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 5-6 juta tiap bulan. Jumlah yang tidak jauh berbeda dengan seorang profesor riset di LIPI yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun.

Pada level ini kita berharap bahwa peningkatan tunjangan tersebut dapat mengakselerasi kualitas mereka. Adanya tambahan penghasilan tersebut juga dapat sebagian dialokasikan untuk biaya studi lanjut di jenjang pasca sarjana. Bisa juga dialokasikan untuk membeli berbagai referensi tambahan yang mampu memperkaya bahan pengajaran di sekolah.Dengan demikian, khasanah pengetahuan guru semakin meningkat. Tidak lagi terjebak dalam budaya tekstual yang hanya mengandalkan buku pelajaran di kelas.

Kita membutuhkan guru-guru yang memiliki semangat dan kreatifitas dalam mengakselerasi kompetensinya. Salah satu upaya tersebut antara lain adalah meningkatkan kualitas bahasa Inggris. Kemampuan bahasa Ingggris untuk kondisi saat ini menjadi sebuah kebutuhan dan keniscayaan. Dengan adanya peningkatan kesejahteraan itu juga sejatinya dapat memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya.Mereka bisa mengikuti berbagai kursus yang mampu memperkaya kemampuan bahasanya.

Dengan adanya kemampuan bahasa tersebut mereka dapat berinisiatif mengikuti berbagai tawaran dan kesempatan pelatihan, studi banding, short course maupun workshop yang diadakan lembaga nasional maupun mancanegara. Melalui berbagai forum itulah, mereka dapat membuka dan menambah cakrawala baru tentang pendidikan nasional/mancanegara. Berbagai hal positifnya dapat mereka integrasikan dalam kompetensi pribadi. Secara sosial, pengalaman tersebut dapat ditularkan ke lingkungan sekolahnya dimana dia mengajar.

Agar anggaran sertifikasi tidak menguap begitu saja tanpa didampingi dengan peningkatan kualitas pendidikan secara nasional, kita perlu mendorong dan mengawal terus program sertifikasi tersebut. Republik ini menanti hasil sertifikasi guru yang sudah menggunakan uang rakyat. Selamat hari guru nasional.

Lyon,23 November 2011


Read more...

Jika Kota Berperan Mendidik Warganya, Apakah Kota Juga Anggota PGRI?

Penulis: Arie Fitria, Mahasiswa Doktoral Bidang Urbanisme, saat ini sedang studi dan berdomisili di Lyon (tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Harian Radar Lampung, 19 November 2011)

Pada bulan November, para pendidik di negeri ini merayakan hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) tepatnya tanggal 25. Peran guru dalam dunia pendidikan tentu tidak lagi diragukan, namun dalam penulis akan membahas bagaimanakah peran kota dalam pendidikan.

Apakah sebuah kota juga menjalankan peran sebagai pendidik bagi warganya? Bagaimana kota mendidik warganya?

Peran sebuah kota dalam pendidikan dimulai dari fungsi Kota sebagai sebuah ruang yang didalamnya dilaksanakan berbagai macam kegiatan, termasuk aktivitas dibidang pendidikan. Dalam pendidikan formal, peran sebuah kota tampak nyata dalam penyediaan kawasan pendidikan dan fasilitasnya.

Apakah hanya pada batasan itu saja sebuah kota berperan dalam memberikan pendidikan pada warganya?

The city is the form and symbol of an integrated social relationship; it is the seat of the temple, the market, the hall of justice, the academy of learning. Here in the city the goods of civilisation are multiplied and manifolded; here is where human experience is transformed intoviable signs, symbols of conduct, systems of order (Mumford, 1938, dalam Urban Studies, 1976)

Dari kutipan tersebut nampak bahwa ada interaksi kuat antara kota dengan penghuninya. Kota merupakan sebuah hasil karya manusia sehingga kota menggambarkan karakteristik penghuninya.

Dari bentuk penataannya dan model bangunan-bangunannya, sebuah kota akan memberikan pendidikan sejarah. Bangunan kuno yang terdapat di sebuah kota mentransfer sebuah histori dari sebuah dekade masa lalu penghuninya kepada para generasi penerusnya.

Kampung tua Gedung Batin, Kecamatan Blambangan Umpu, Way Kanan, Lampung misalnya, ia mampu menceritakan kepada generasi sekarang tentang bagaimana bangunan rumah di abad 18 dan sekaligus menggambarkan kebudayaan penghuninya masa itu. Sebagai guru dan sekaligus artefak sejarah, kota tidak mudah untuk diintervensi oleh kekuatan politik. Hal ini disebabkan kota akan menampilkan tahapan-tahapan pembangunan yang telah dilaluinya termasuk kebijakan politik yang diberlakukan kepadanya sehingga kota dapat menjadi identitas bagi wilayah tersebut.

Menganalisis, tahapan-tahapan pembangunan kota, penulis mengalogikan kota sebagai organisme, yang selalu mengalami perkembangan. Sebuah organisme dapat tumbuh dengan baik dan bertahan hidup jika ada asupan gizi yang cukup.

Demikian juga dengan kota, guna pertumbuhannya, sebuah kota membutuhkan jaringan suplai pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologinya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam kota itu sendiri. Disinilah, kota memiliki peran yang signifikan terhadap pendidikan.

Interaksi kota dengan jaringan luar akan dipengaruhi oleh daya sentrifugalnya sehingga pengembangan kota akan bersifat ekstensif kearah pinggiran. Contoh yang dapat dicermati adalah perkembangan Kota Deli Serdang, Sumatera Utara yang dilakukan penelitian oleh seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Sumatera Utara tahun 2000.

Penelitian tersebut menyimpulkan dampak pengembangan kota terhadap kualitas kehidupan sosial masyarakat desa terhadap variabel pendidikan dengan komponen mengikuti pendidikan dan perubahan tingkah laku peserta didik adalah positif (Gea, 2000).

Perkembangan sebuah kota mampu mempengaruhi tingkat partisipasi peserta didik untuk merubah tingkah lakunya dan untuk mengikuti pendidikan formal.

Apakah dalam upaya pemenuhan kebutuhannya tersebut, sebuah kota mampu mengakomodir sebuah lingkungan yang adaptif terhadap anak? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch (Syahrul, 2004) pada tahun 1971-1975 menunjukkan bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah lingkungan yang memenuhi beberapa kriteria berikut:

  1. Mempunyai komuniti yang kuat secara fisik dan sosial,
  2. Komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas,
  3. Memberi kesempatan bermain pada anak,
  4. Memiliki fasilitas pendidikan yang memungkinkan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.
Namun yang terjadi saat ini kondisi-kondisi fisik kota dipersepsikan anak sebagai sesuatu yang menyesakkan. Bangunan-bangunan beton yang menjulang keangkasa dan maraknya bangunan-bangunan pusat perbelanjaan, telah merenggut ruang bermain mereka.

Kota akan memberikan pendidikan bahasa, psikologi sosial dan olah raga dalam kemampuannya menyediakan ruang publik. Ketersediaan ruang publik akan memberikan ruang bermain bagi anak sehingga anak-anak memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik yang akan berdampak positif bagi fisik-motorik untuk tumbuh kembang otot-tulang dan penanaman rasa percaya diri mereka.

Pelajaran psikologi sosial diperoleh ketika masyarakat saling berinteraksi di ruang publik. Kegiatan ini akan melahirkan rasa empati, toleransi yang pada akhirnya akan membentuk rasa solidaritas dan kepekaan sosial. Melalui interaksi, pertukaran kosakata akan terjadi sehingga kemampuan bahasa seseorang akan meningkat, khususnya kemampuan menyimak dan berbicara.

Bagaimana Kota mendidik warganya untuk disiplin dan menghargai waktu?

Peran kota dalam mendidik warganya untuk disiplin dan menghargai waktu dapat saja dianggap mengada-ada, namun pada faktanya kota memiliki peran untuk pembentukan kepribadian warganya.

Pelayanan Umum (service public) yang diberikan oleh kota merupakan media yang dapat digunakan oleh kota untuk membentuk kedisiplinan bagi warganya. Mengambil contoh service public pada bidang transportasi di Negeri Napoleon.

Gambar: Bus gandeng yang beroperasi di Kota Lyon

Kota Lyon di Perancis menyediakan berbagai moda transportasi seperti 4 jalur Metro (kereta api bawah tanah), 4 jalur tram, 2 jalur tunel, 120 jalur bus umum, 100 jalur angkutan anak sekolah dan sepeda (http://www.tcl.fr).

Moda transportasi tersebut dilengkapi dengan peta dan jadwal yang dapat dikonsultasikan di website maupun pada masing-masing halte. Warga yang akan berpergian dapat melihat jadwal moda trasportasi yang akan digunakan sehingga ia akan tahu jam berapa ia harus keluar rumah dan sampai di tempat tujuan tanpa terlambat.

Bagaimana jika ia terlambat sampai di halte?

Tentu saja warga tidak dapat menghentikan bus disembarang tempat. Ia harus menunggu bus berikutnya. Hal ini bukanlah menjadi sanksi melainkan sebuah konsekuensi, namun untuk musim gugur dan musim dingin, berada di halte selama 10-15 menit dalam temperature di bawah 10° tentu saja akan tersiksa.

Dalam penggunaan sepeda kota, warga dapat menggunakannya secara gratis pada 30 menit pertama. Warga juga dididik untuk menjaga fasilitas umum ini, jika terjadi kerusakan atau sepeda tidak kembali pada stasiunnya dalam 24 jam. 150€ akan di-debet dari rekeningnya.

Lalu bagaimanakah dengan kota yang selalu diwarnai dengan penuh sesak kendaraan yang macet atau badan jalan yang menjadi sempit karena adanya terminal bayangan? Kota tersebut dapat mencerminkan warganya dalam menghargai waktu dan berdisiplin.

Bagaimana kota tersebut mampu menjalankan fungsinya sebagai pendidik sebagaimana uraian diatas, modal utama yang dibutuhkan adalah political will dari Pemerintah yang didukung oleh sektor swasta serta adanya peran serta masyarakat untuk dapat menjaga fasilitas umum yang tersedia.

Sumber:

  1. Gea, Ibelala. 2000. Analisis Dampak Pengembangan Kota Terhadap Kualitas Kehidupan Sosial Masyarakat. Universitas Sumatera Utara; Tesis
  2. Situs resmi Transport Publik Lyon. http://www.tcl.fr diakses tanggal 4 November 2011
  3. Syahrul, Fitriani F. 2004. Dampak Pembangunan Kota Terhadap Tumbuh-Kembang Anak: Tinjauan Psikologis. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional ”Kota Ramah Anak, Jakarta, 12 Oktober 2004.
  4. Urban Studies, 1976 dipublikasikan www.sagepub.com diakses Tanggal 4 November 2011

(*) Catatan:
- Tulisan ini juga dapat dibaca di blog penulis di http://ariefitria.wordpress.com/
- Diedit seperlunya oleh admin


Read more...

Muchtar Buchori & Komitmen Pendidikan

Prof. Muchtar Buchori

Oleh: Rakhmat Hidayat

Penulis adalah Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta & Mahasiswa Doktoral Departemen Ilmu Pendidikan Université Lumière Lyon 2, Prancis

Saya pernah sekali berjumpa dengan Prof. Muchtar Buchori pada 4 November 2009 di kediamannya, kawasan Puri Bintaro, PB 8 Bintaro Jaya, Sektor 9, Tangerang Selatan. Saya berjumpa dengan beliau dalam rangka wawancara untuk riset yang saya lakukan tentang Gerakan Guru di Indonesia Pasca Orde Baru. Beberapa hari sebelumnya saya telepon beliau untuk janjian wawancara. No kontak beliau saya dapatkan dari Binny Buchori. Binny Buchori adalah putri kedua dari Muchtar Buchori.

Saat ini Binny Buchori aktif di lembaga swadaya masyarakat. Dalam e-mail yang masih tersimpan di inbox saya, tercatat saya menghubungi Binny Buchori pada 4 Agustus 2009. “Bapak pasti senang sekali diskusi dengan mas Rakhmat”, ungkap Binny dalam balasan e-mailnya kepada saya. Ketika saya kontak beliau, langsung merespon permohonan wawancara saya beliau dengannya. Cukup lama saya menghubungi beliau untuk janjian wawancara.Tak lain karena saya juga harus melaksanakan wawancara dengan beberapa informan lainnya.

Untuk menuju rumahnya memang sangat jauh. Apalagi posisi saya dari Rawamangun, Jakarta Timur. Sayapun tiba di rumahnya seperti yang sudah dijadwalkan. Usia beliau memang sudah sepuh, tetapi sama sekali tidak menghilangkan perhatian dan komitmennya terhadap pendidikan Indonesia. Hari-hari tuanya, ia habiskan dengan membaca dan menulis artikel terutama di Kompas dan The Jakarta Post. Kami berbincang hampir 1 jam tentang dinamika gerakan guru di Indonesia pasca orde baru. Buchori banyak mengkritik kiprah PGRI dalam ranah politik Orde Baru.Fokus riset antara lain juga menjelaskan posisi sosial politik PGRI selama dan pasca Orde Baru.

Riset saya berangkat dari tesis utama bahwa PGRI tak bisa dilepaskan dalam diskursus politik Orde Baru. Meskipun realitasnya, pasca Orde Baru, PGRI bukan lagi menjadi organisasi tunggal yang menyuarakan aspirasi dan kepentingan guru di Indonesia. Pada level ini, Buchori dengan jernih dan kritis memberikan analisa yang sangat komprehensif dalam wawancara yang saya lakukan. lahirnya oganisasi profesi baru karena respon dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap PGRI.

Dalam kesempatan wawancara tersebut, Buchori menjelaskan, “PGRI waktu Orde Baru menyandarkan diri kepada Golkar. Ini adalah dosa terbesar PGRI."

Kemudian lanjutnya, "Padahal pada saat awal didirikan semangat nasionalismenya sangat besar sekali. Misalnya, PGRI tidak setuju pendidikan guru yang hanya satu tahun. Namun pada saat Orde Baru nasionalisme PGRI mencair karena PGRI harus merapat kepada Golkar dalam konteks politik praktis. Di sini terdapat distorsi dalam PGRI dan membuat lahirnya organisasi-organisasi guru baru”, demikian ujarnya kepada saya.

Buchori memang dikenal sebagai praktisi dan pengamat pendidikan yang kritis terhadap pemerintah. Dalam wawancara itu, Buchori sempat mengatakan kepada saya, ketika Megawati Soekarnopoetri menjadi Presiden pada 1999, ia sempat ditawari sebagai Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Tapi dengan alasan dan pertimbangan tertentu, Buchori tidak menerima tawaran tersebut. Salah satu pertimbangannya seperti yang disampaikan kepada saya adalah karena factor usia. Ia memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai anggota DPR Periode 1999-2004.Buchori menjadi anggota Komisi VI yang membawahi urusan pendidikan.

Mochtar Buchori yang dilahirkan di Yogyakarta 9 Desember 1926, dikenal sebagai penulis buku dan artikel-artikel pendidikan yang kritis dan produktif. Lulusan Harvard University Amerika Serikat 1975 ini pernah menjadi Pembantu Rektor Bidang Akademis IKIP Bandung (1964-1965), Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (1976-1977).

Di akhir wawancara saya sempat diskusi singkat tentang pengalaman akademiknya terutama ketika Buchori melakukan studi di luar negeri. Saya ingin mendapatkan pengalaman berharga darinya. Buchori banyak bercerita tentang pengalamannya selama ia studi di luar negeri. Sebagaimana diketahui, pada 1954-1957, Buchori pernah studi di University Nebraska, Amerika Serikat dengan mendalami kajian sejarah dan filosofi pendidikan.Gelar doktornya ia raih dari University Harvard pada 1975 dengan kajian perencanaan pendidikan.

Buchori mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation. Ia menulis disertasi berjudul “An Evaluative Study of Public Service Programme for University Student in Indonesia”. Saya ingat, beliau memberikan satu nasehat berharga untuk saya adalah soal kemampuan bahasa asing jika ingin melanjutkan studi ke luar negeri, terutama bahasa Inggris.

Saya sebenarnya sengaja bertanya tentang pengalaman studi beliau karena saya juga bermaksud mendaftar beasiswa doktor ke Prancis yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikti. Beliau sempat bertanya, apakah saya sudah belajar bahasa Prancis. Saya pun menjawab sedang belajar bahasa Prancis di CCF Jakarta. Setelah itu saya bermaksud mendapatkan Surat Rekomendasi dari beliau dalam rangka mendaftar beasiswa Dikti tersebut. Saya awalnya berharap beliau dapat memberikan saya surat rekomendasi sebagai seorang professor pendidikan. Sayang, beliau tidak berkenan memberikan saya surat rekomendasi itu karena beliau merasa kekritisannya sering bersebrangan dengan pejabat-pejabat di Depdiknas. Beliau beranggapan jika saya mendapatkan surat rekomendasi beliau, menurutnya dapat menjadi masalah untuk pendaftaran beasiswa saya. Awalnya saya berusaha meyakinkan beliau untuk tetap membuatkan surat rekomendasi. Tetapi, beliau tetap tidak berkenan memberikan saya sebuah surat rekomendasi. Akhirnya, sayapun pamit dari kediaman beliau.

Setelah pertemuan itu saya tidak lagi berjumpa lagi dengannya. Menariknya, hampir dua tahun kemudian kembali saya berjumpa dengan sosoknya meskipun perjumpaan itu tidak secara langsung. Saya kembali berjumpa dengan gagasan-gagasan cemerlangnya. Satu diantaranya adalah sebuah tulisan berjudul “The Evolution of Higher Education in Indonesia”. Buchori menulis artikel ini bersama Abdul Malik yang tertuang dalam sebuah buku berjudul “Asian Universities:Historical Perspective and Contemporary Challenges” (2004). Buku ini diedit oleh Philip G. Albatch dan Toro Umakoshi. Albatch adalah professor dalam kajian pendidikan tinggi di Boston College, Amerika sementara Umakoshi adalah professor dalam kajian pendidikan tinggi di University of Obirin, Tokyo.

Saya mulai akrab dengan tulisan Buchori dan Malik itu sejak Maret 2011 ketika saya mulai studi doktor di Lyon, Prancis. Tulisan Buchori dan Malik menjadi rujukan utama bagi akademisi Indonesia yang melakukan studi tentang pendidikan tinggi. Dalam tulisan itu, Buchori dan Malik menjelaskan empat hal penting. Pertama, mereka menjelaskan fase evolusi pendidikan Indonesia yaitu sejak periode prakolonial, periode kolonial (1831-1942) dan pendudukan Jepang (1942-1945), periode rekonstruksi (1945-1950), periode nasionalisasi dan ekspansi (1950-1965). Kedua, Buchori dan Malik juga menjelaskan beberapa isu dan realitas pendidikan tinggi di Indonesia seperti sistem pengajaran, akses dan penerimaan mahasiswa, kualitas pendidikan. Ketiga, mereka menjelaskan tentang relevansi pendidikan di Indonesia. Keempat, mereka juga menjelaskan dinamika pendidikan tinggi Islam.

Entah mengapa sejak minggu pertama Oktober 2011, saya kembali berjumpa dengan pemikiran Buchori dalam tulisannya itu. Sejak minggu itu saya meminjam buku Albatch dan Umakoshi dan kembali terus mendalami tulisan Buchori dalam rangka penulisan disertasi saya tentang pendidikan tinggi di Indonesia. Karenanya ketika mendengar kabar meninggalnya Buchori pada Minggu, 9 Oktober 2011 rasanya saya merasa kembali dekat dengan sosok dan pemikiran yang dikenal kritis tersebut. Meskipun secara fisik dan geografis, saya jauh darinya. Muchtar Buchori sudah tiada, tetapi gagasan dan karya-karya akademiknya terus menjadi rujukan akademisi di Indonesia dan manca negara.

Lyon-France, 10 Oktober 2011


Read more...